Kumpulan Soal UN SMA

latihan soal un/us pict

Mata Pelajaran Fisika SMA
Soal UAN Fisika Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2007 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2008 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2009 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2010 Download Disini
Soal UAN Fisika Tahun 2011 Download Disini

Mata Pelajaran Kimia SMA
Soal UAN Kimia Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2007 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2008 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2009 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2010 Download Disini
Soal UAN Kimia Tahun 2011 Download Disini
Mata Pelajaran Biologi SMA
Soal UAN Biologi Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2007 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2008 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2009 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2010 Download Disini
Soal UAN Biologi Tahun 2011 Download Disini

Mata Pelajaran Matematika IPA SMA
Soal UAN Matematika IPA Tahun 1999 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2007 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2008 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2009 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2010 Download Disini
Soal UAN Matematika IPA Tahun 2011 Download Disini

Rangkuman Matematika IPA Download Disini

Mata Pelajaran Matematika IPS SMA
Soal UAN Matematika IPS Tahun 1996 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 1997 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 1998 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 1999 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2007 Download Disini
Soal UAN Matematika IPS Tahun 2008 Download Disini

Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMA
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 1999 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Bahasa Indonesia Tahun 2007 Download Disini

Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMA
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Bahasa Inggris Tahun 2007 Download Disini

Mata Pelajaran Ekonomi SMA
Soal UAN Ekonomi Tahun 1997 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 1998 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 1999 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Ekonomi Tahun 2007 Download Disini

Mata Pelajaran Geografi SMA
Soal UAN Geografi IPA Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Geografi IPS Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Geografi IPS Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Geografi IPS Tahun 2007 Download Disini

Mata Pelajaran Sosiologi SMA
Soal UAN Sosiologi Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2007 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2008 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2009 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2010 Download Disini
Soal UAN Sosiologi Tahun 2011 Download Disini

Mata Pelajaran Antropologi SMA
Soal UAN Antropologi Tahun 1999 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Antropologi Tahun 2007 Download Disini

Mata Pelajaran Tata Negara SMA
Soal UAN Tata Negara Tahun 2000 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2001 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2002 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2003 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2004 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2005 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2006 Download Disini
Soal UAN Tata Negara Tahun 2007 Download Disini


Tags :

Latihan Soal UN/US SD/MI Online

latihan soal un/us pict

Jenjang SD/MI
Untuk persiapan menghadapi ujian nasional maupun ujian sekolah, para siswa SD/MI dapat berlatih mengerjakan soal-soal mata pelajaran yang diujikan secara online.

Pada latihan soal ujian online disini, para siswa secara langsung dapat melihat hasil nilainya dan mengetahui nomor soal yang mana yang jawabannya salah atau benar dengan mengklik tombol PERIKSA yang terdapat di pojok kiri bawah halaman soal. Selamat berlatih, semoga sukses !!

Pengertian dan Pemanfaatan Energi Nuklir



Masalah energi merupakan salah satu isu penting yang sedang hangat dibicarakan. Semakin berkurangnya sumber energi, penemuan sumber energi baru, pengembangan energi-energi alternatif, dan dampak penggunaan energi minyak bumi terhadap lingkungan hidup menjadi tema-tema yang menarik dan banyak didiskusikan. Pemanasan global yang diyakini sedang terjadi dan akan memasuki tahap yang mengkhawatirkan disebut-sebut juga merupakan dampak penggunaan energi minyak bumi yang merupakan sumber energi utama saat ini.
Reaktor Nuklir
Dampak lingkungan dan semakin berkurangnya sumber energi minyak bumi memaksa kita untuk mencari dan mengembangkan sumber energi baru. Salah satu alternatif sumber energi baru yang potensial datang dari energi nuklir. Meski dampak dan bahaya yang ditimbulkan amat besar, tidak dapat dipungkiri bahwa energi nuklir adalah salah satu alternatif sumber energi yang layak diperhitungkan.

Isu energi nuklir yang berkembang saat ini memang berkisar tentang penggunaan energi nuklir dalam bentuk bom nuklir dan bayangan buruk tentang musibah hancurnya reaktor nuklir di Chernobyl. Isu-isu ini telah membentuk bayangan buruk dan menakutkan tentang nuklir dan pengembangannya. Padahal, pemanfaatan yang bijaksana, bertanggung jawab, dan terkendali atas energi nuklir dapat meningkatkan taraf hidup sekaligus memberikan solusi atas masalah kelangkaan energi.

Fisi Nuklir
Secara umum, energi nuklir dapat dihasilkan melalui dua macam mekanisme, yaitu pembelahan inti atau reaksi fisi dan penggabungan beberapa inti melalui reaksi fusi. Di sini akan dibahas salah satu mekanisme produksi energi nuklir, yaitu reaksi fisi nuklir.

Sebuah inti berat yang ditumbuk oleh partikel (misalnya neutron) dapat membelah menjadi dua inti yang lebih ringan dan beberapa partikel lain. Mekanisme semacam ini disebut pembelahan inti atau fisi nuklir. Contoh reaksi fisi adalah uranium yang ditumbuk (atau menyerap) neutron lambat.

fisi01Reaksi fisi uranium seperti di atas menghasilkan neutron selain dua buah inti atom yang lebih ringan. Neutron ini dapat menumbuk (diserap) kembali oleh inti uranium untuk membentuk reaksi fisi berikutnya. Mekanisme ini terus terjadi dalam waktu yang sangat cepat membentuk reaksi berantai tak terkendali. Akibatnya, terjadi pelepasan energi yang besar dalam waktu singkat. Mekanisme ini yang terjadi di dalam bom nuklir yang menghasilkan ledakan yang dahsyat. Jadi, reaksi fisi dapat membentuk reaksi berantai tak terkendali yang memiliki potensi daya ledak yang dahsyat dan dapat dibuat dalam bentuk bom nuklir.

reaksi fisi berantai (sumber: www.scienceclarified.com)

Dibandingkan dibentuk dalam bentuk bom nuklir, pelepasan energi yang dihasilkan melalui reaksi fisi dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih berguna. Untuk itu, reaksi berantai yang terjadi dalam reaksi fisi harus dibuat lebih terkendali. Usaha ini bisa dilakukan di dalam sebuah reaktor nuklir. Reaksi berantai terkendali dapat diusahakan berlangsung di dalam reaktor yang terjamin keamanannya dan energi yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang lebih berguna, misalnya untuk penelitian dan untuk membangkitkan listrik.

reaksi fisi berantai terkendali (sumber: www.atomicarchive.com)

Di dalam reaksi fisi yang terkendali, jumlah neutron dibatasi sehingga hanya satu neutron saja yang akan diserap untuk pembelahan inti berikutnya. Dengan mekanisme ini, diperoleh reaksi berantai terkendali yang energi yang dihasilkannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna.

Reaktor Nuklir
Energi yang dihasilkan dalam reaksi fisi nuklir dapat dimanfaatkan untuk keperluan yang berguna. Untuk itu, reaksi fisi harus berlangsung secara terkendali di dalam sebuah reaktor nuklir. Sebuah reaktor nuklir paling tidak memiliki empat komponen dasar, yaitu elemen bahan bakar, moderator neutron, batang kendali, dan perisai beton.

Elemen bahan bakar menyediakan sumber inti atom yang akan mengalami fusi nuklir. Bahan yang biasa digunakan sebagai bahan bakar adalah uranium U. elemen bahan bakar dapat berbentuk batang yang ditempatkan di dalam teras reaktor.

Neutron-neutron yang dihasilkan dalam fisi uranium berada dalam kelajuan yang cukup tinggi. Adapun, neutron yang memungkinkan terjadinya fisi nuklir adalah neutron lambat sehingga diperlukan material yang dapat memperlambat kelajuan neutron ini. Fungsi ini dijalankan oleh moderator neutron yang umumnya berupa air. Jadi, di dalam teras reaktor terdapat air sebagai moderator yang berfungsi memperlambat kelajuan neutron karena neutron akan kehilangan sebagian energinya saat bertumbukan dengan molekul-molekul air.



Fungsi pengendalian jumlah neutron yang dapat menghasilkan fisi nuklir dalam reaksi berantai dilakukan oleh batang-batang kendali. Agar reaksi berantai yang terjadi terkendali dimana hanya satu neutron saja yang diserap untuk memicu fisi nuklir berikutnya, digunakan bahan yang dapat menyerap neutron-neutron di dalam teras reaktor. Bahan seperti boron atau kadmium sering digunakan sebagai batang kendali karena efektif dalam menyerap neutron.

Batang kendali didesain sedemikian rupa agar secara otomatis dapat keluar-masuk teras reaktor. Jika jumlah neutron di dalam teras reaktor melebihi jumlah yang diizinkan (kondisi kritis), maka batang kendali dimasukkan ke dalam teras reaktor untuk menyerap sebagian neutron agar tercapai kondisi kritis. Batang kendali akan dikeluarkan dari teras reaktor jika jumlah neutron di bawah kondisi kritis (kekurangan neutron), untuk mengembalikan kondisi ke kondisi kritis yang diizinkan.

Radiasi yang dihasilkan dalam proses pembelahan inti atom atau fisi nuklir dapat membahayakan lingkungan di sekitar reaktor. Diperlukan sebuah pelindung di sekeliling reaktor nuklir agar radiasi dari zat radioaktif di dalam reaktor tidak menyebar ke lingkungan di sekitar reaktor. Fungsi ini dilakukan oleh perisai beton yang dibuat mengelilingi teras reaktor. Beton diketahui sangat efektif menyerap sinar hasil radiasi zat radioaktif sehingga digunakan sebagai bahan perisai.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir
Energi yang dihasilkan dari reaksi fisi nuklir terkendali di dalam reaktor nuklir dapat dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Instalasi pembangkitan energi listrik semacam ini dikenal sebagai pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Salah satu bentuk reaktor nuklir adalah reaktor air bertekanan (pressurized water reactor/PWR) yang skemanya ditunjukkan dalam gambar. Energi yang dihasilkan di dalam reaktor nuklir berupa kalor atau panas yang dihasilkan oleh batang-batang bahan bakar. Kalor atau panas dialirkan keluar dari teras reaktor bersama air menuju alat penukar panas (heat exchanger). Di sini uap panas dipisahkan dari air dan dialirkan menuju turbin untuk menggerakkan turbin menghasilkan listrik, sedangkan air didinginkan dan dipompa kembali menuju reaktor. Uap air dingin yang mengalir keluar setelah melewati turbin dipompa kembali ke dalam reaktor.

Untuk menjaga agar air di dalam reaktor (yang berada pada suhu 300oC) tidak mendidih (air mendidih pada suhu 100oC dan tekanan 1 atm), air dijaga dalam tekanan tinggi sebesar 160 atm. Tidak heran jika reaktor ini dinamakan reaktor air bertekanan.

Download informasi visual tentang nuklir, Download Disini

Sumber : netsains.com

Kabinet dan Pendidikan




Oleh Mochtar Buchori
Pengamat Pendidikan

Setahun sudah Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II yang dipimpin SBY-Boediono berjalan. Adakah perubahan yang dicapai bidang pendidikan selama periode ini?

Tentu dibutuhkan catatan panjang untuk mengevaluasi secara menyeluruh. Namun, setidaknya ada tiga hal yang ingin saya bicarakan di sini: perubahan yang menunjukkan kemajuan, perubahan yang menunjukkan kemunduran, dan masalah-masalah dasar yang terdapat dalam sistem pendidikan.

Di antara hal-hal yang menunjukkan kemajuan, saya mencatat antara lain—meski juga banyak dikritik—adalah banyaknya sekolah yang berhasil mendidik murid-muridnya mencapai prestasi internasional. Hal ini terutama ditunjukkan dalam berbagai olimpiade, terutama matematika dan IPA.
Kemajuan lain adalah berdiri atau berkembangnya sekolah-sekolah elite di sejumlah kota besar di Indonesia: Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Malang, Medan, dan kota-kota lainnya. Di antara sekolah-sekolah jenis ini, ada yang dinamakan rintisan sekolah berbasis internasional (RSBI) dan sekolah berbasis internasional (SBI).

Tetapi, apa definisi kata ’’internasional’’ dalam konteks ini? Sejauh ini, tidak begitu jelas. Masyarakat tampaknya mempunyai tafsir yang berbeda-beda. Ada yang melihat penggunaan bahasa Inggris menjadi petunjuk utama ’’keinternasionalan’’. Tapi ada juga yang memandang status tersebut hanya dari sudut simbolis seperti seragam atau kemegahan gedungnya saja. Harapan saya, gagasan mengembangkan sekolah elite perlu diiringi upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan kualitas yang baik seperti namanya.

Kemunduran

Di samping perubahan-perubahan menggembirakan, terlihat juga perubahan yang menunjukkan kemunduran. Paling mendasar dari gejala ini adalah bertambah besarnya jumlah anak-anak miskin yang tidak mampu bersekolah. Persentase penduduk miskin masih sangat tinggi dan karena itu persentase siswa-siswa yang tidak mampu menyelesaikan pendidikan menengah pertamanya—karena kemiskinan—juga sangat tinggi. Jumlah sekolah telantar dan memprihatinkan masih banyak di sejumlah daerah dan tidak ada tanda-tanda pemerintah turun tangan.

Kenyataan ini antara lain memicu munculnya lembaga-lembaga pendidikan nonformal yang kemudian disebut lembaga pendidikan alternatif. Sebagian lembaga pendidikan alternatif hadir sebagai reaksi atas ketidakjelasan beragam kebijakan dalam menghasilkan mutu lulusan berkualitas. Tapi, yang terbanyak, lembaga-lembaga itu digagas untuk mengakomodasi kepentingan belajar warga miskin.

Dalam pada ini kita juga melihat kesenjangan terus meningkat. Secara umum, kesenjangan terkait mutu guru dan ketersediaan fasilitas pembelajaran yang memadai. Memang banyak sekolah dengan fasilitas baik, tapi mutu gurunya jauh dari harapan. Sebaliknya, tak sedikit sekolah yang kurang mendapat perhatian pemerintah, guru-gurunya berhasil menunjukkan inovasi atau terobosan positif.

Harapannya tentu, sekolah-sekolah mendapatkan fasilitas pembelajaran memadai dan kualitas guru-gurunya terus ditingkatkan. Jika tidak, keadaannya akan seperti saat ini: kesenjangan antara sekolah-sekolah elite dan sekolah-sekolah telantar makin lama kian besar. Tidak terlihat pula usaha-usaha yang cukup nyata dan meyakinkan dari pemerintah untuk memperkecil kesenjangan ini.

Lalu apa yang akan terjadi sepuluh tahun akan datang kalau kesenjangan dua jenis sekolah ini tidak juga berkurang?



Masalah-masalah dasar

Salah satu masalah dasar dalam pendidikan Indonesia ialah tidak adanya hubungan yang erat antara birokrasi pendidikan dan masyarakat pendidikan di luar birokrasi. Keputusan-keputusan penting dalam pendidikan sampai sekarang lebih banyak dilakukan birokrasi, sementara masyarakat pendidikan tidak cukup memahami maksud kebijakan-kebijakan baru dalam pendidikan.

Salah satu contoh yang sangat klise adalah ujian nasional. Meski banyak dipersoalkan, birokrasi memutuskan tetap meneruskan kebijakan ujian nasional. Masyarakat pendidikan pada umumnya mengeluhkan keputusan pemerintah. Saya sendiri secara pribadi sejak tahun 1970 menentang model ujian nasional. Prinsip saya: yang mampu mengevaluasi kemajuan murid adalah guru-guru yang mengajar mereka sehari-hari. Bukan orang dari luar.

Masalah dasar lainnya ialah kurikulum sekolah yang kelihatan sukar sekali berubah. Dalam hal ini sekolah kita dan pendidikan Indonesia berwatak konservatif. Konservatisme memang perlu untuk mengimbangi progresivisme yang tanpa arah. Akan tetapi, kalau kita terlampau konservatif, kita akan menjadi kaku, murid-murid kita akan menjadi manusia Indonesia yang kaku dalam belajar.

Dalam hubungan ini perlu disebutkan agaknya bahwa kelebihan sekolah-sekolah Indonesia dahulu ialah sifat konservatif yang sehat. Anak-anak lulusan sekolah menengah Indonesia, ketika belajar di luar negeri, pada umumnya mampu meraih hasil yang cukup baik. Banyak misalnya lulusan IAIN—sekarang UIN—yang berlatar sekolah agama/pesantren berhasil dalam studinya di luar negeri hampir di berbagai bidang. Tahun 1950-an banyak yang memandang rendah IAIN. Tapi ketika ada lulusannya mendapat PhD jurusan biologi di IPB, misalnya, orang kemudian sadar bahwa ada konservatisme yang sehat. Ini dapat kita jadikan contoh untuk mencari sikap yang lebih sehat bagi pendidikan Indonesia masa datang.

Masalah mendasar lainnya, pendidikan Indonesia masih saja sangat menekankan pendidikan pengetahuan (transfer of knowledge) dan tidak cukup memberi perhatian kepada pemupukan keterampilan (formation of skills) dan pembinaan watak (character building).

Memang kata pembinaan watak atau character building selalu digunakan, tapi tidak diterjemahkan menjadi tindakan pendidikan yang cukup nyata. Pendidikan watak lebih banyak diberikan dalam bentuk khotbah-khotbah tentang manusia yang mulia, manusia beriman dan bertakwa, dan betapa mengerikannya nasib manusia-manusia tersesat.

Catatan akhir

Perlu kita sadari bahwa kemajuan, kemunduran, dan banyaknya masalah mendasar pendidikan tidak dapat dipandang sebagai hasil kerja KIB Jilid II semata. Kita semua bertanggung jawab. Dinamika dalam pendidikan selalu terjadi setelah terkumpulnya tenaga-tenaga peremajaan (rejuvenation of power) dalam waktu lama. Karena saya percaya, there’s no instant progress in education.

Sekarang, terserah kepada kita, kepada birokrasi pendidikan dan masyarakat pendidikan seluruhnya: apa yang diinginkan untuk Indonesia di masa depan? Tetap menjadi bangsa yang konservatif, menjadi bangsa dinamis tetapi tanpa arah, atau menjadi bangsa yang terus-menerus atau secara konsisten menuju kemajuan dan perbaikan. Jawabnya ada di tangan kita. (Sumber: Kompas, 20 Oktober 2010)

Soal SMA

latihan soal un/us pict

Anda dapat mendownload kumpulan soal-soal Matematika SMA dibawah ini secara gratis.

SOAL-SOAL FUNGSI DAN FUNGSI INVERS Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL LIMIT Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL PELUANG Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL PERSAMAAN DAN FUNGSI KUADRAT Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL LINGKARAN Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL EKSPONEN LOGARITMA Silahkan Download Disini
SOAL-SOAl INTEGRAL Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL DIMENSI 3 Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL LOGIKA MATEMATIKA Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL MATRIKS Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL SUKU BANYAK Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL TURUNAN Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL TRANSFORMASI GEOMETRI Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL TRIGONOMETRI Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL STATISTIKA Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL PERSAMAAN LINIER Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL PROGRAM LINIER Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPA 2007 Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPA 2008 Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPA 2009 Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPA 2010 Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPA 2010B Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPS 2008 Silahkan Download Disini
SOAL-SOAL UN IPS 2009 Silahkan Download Disini
PENYELESAIAN SOAL-SOAL UN IPA 2010 Silahkan Download Disini

Nasib Pendidikan Gratis




Oleh Ibrahim Sakty Batubara
Anggota Komisi X Fraksi PAN DPR RI

Selama ini dalam persepsi masyarakat sudah telanjur terbentuk bahwa anggaran pendidikan minimal 20 persen akan secara langsung berimplikasi pada penyelenggaraan pendidikan gratis yang bisa dinikmati oleh setiap warga negara. Bahkan sebagian besar masyarakat meyakini bahwa layanan pendidikan yang mereka terima juga berkualitas karena didanai oleh anggaran yang cukup besar dalam anggaran pendapatan dan belanja negara.

Tapi masyarakat menghadapi kenyataan pahit karena mereka masih harus mengeluarkan biaya yang lebih mahal di sejumlah sekolah-sekolah yang justru berlabel sekolah gratis. Mereka dipusingkan oleh maraknya pungutan yang dilakukan oleh sejumlah sekolah, berupa uang gedung, uang karyawisata, uang LKS, uang buku, uang ekstrakurikuler, dan uang-uang sumbangan lainnya dengan berbagai dalih.
Kalaupun mereka dapat menikmati dunia pendidikan, persoalan mutu menjadi barang yang bernilai amat mahal. Apalagi kini banyak sekolah yang berlomba untuk menaikkan statusnya menjadi sekolah berstandar nasional (SSN) untuk sekolah dasar dan rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) untuk sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. Peningkatan status ini tentu berimplikasi pada struktur biaya operasional yang mesti dikeluarkan oleh sekolah tersebut dan menjadi biaya yang mesti ditanggung oleh masyarakat. Akibatnya, terjadilah seleksi status sosial dalam masyarakat. Hanya kelompok masyarakat dari kalangan mampulah yang bisa menikmati pendidikan bermutu. Alhasil, harapan masyarakat untuk mendapatkan layanan pendidikan gratis dan bermutu tinggal impian.

Padahal, konstitusi kita, Undang-Undang Dasar Negara RI tahun 1945, sebagaimana tercantum dalam pasal 31 ayat (1), sudah mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan, termasuk pendidikan yang bermutu. Negara pun wajib membiayai penyelenggaraan pendidikan tersebut sebagaimana termaktub dalam pasal 31 ayat (2). Soal alokasi anggaran sekurang-kurangnya 20 persen pun sudah mendapat jaminan dari konstitusi, sebagaimana tercantum dalam pasal 31 ayat (4) bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN serta dari APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Dalam Undang-Undang Sisdiknas Pasal 34 ayat (2) pun secara tegas sudah dinyatakan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar minimal pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya. Wajib belajar adalah program pendidikan bebas biaya untuk jenjang pendidikan dasar yang meliputi SD dan SMP yang wajib dibiayai dan diselenggarakan oleh pemerintah, baik pusat maupun daerah.

Dalam mengimplementasikan amanat konstitusi itulah, pada setiap pengajuan usulan RAPBN, pemerintah wajib mengalokasikan sekurang-kurangnya anggaran pendidikan 20 persen. RAPBN 2011 yang diajukan oleh pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar Rp 243,3 triliun atau sekitar 20,2 persen dari total belanja sebesar Rp 1,202 triliun. Jumlah tersebut terdiri atas anggaran pendidikan yang dialokasikan pada kementerian atau lembaga dan bagian anggaran sebesar Rp 84,175 triliun, anggaran pendidikan yang ditransfer ke daerah sebesar Rp 156,600 triliun, dan dana pengembangan pendidikan nasional yang besarnya mencapai Rp 2,5 triliun.



Dari total dana pendidikan tersebut, alokasi anggaran pada pendidikan dasar untuk menunjang pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun mencapai Rp 9,2 triliun atau sekitar 3,78 persen dari total anggaran pendidikan. Sementara itu, dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), yang kini menjadi bagian dari anggaran transfer ke daerah, mencapai Rp 16,8 triliun atau sekitar 6,9 persen. Dengan demikian, total anggaran yang dialokasikan untuk menyukseskan program wajib belajar 9 tahun adalah sebesar Rp 26 triliun atau sekitar 10,7 persen dari seluruh anggaran yang dialokasikan untuk sektor pendidikan.

Untuk perbaikan gedung dan sarana-prasarana SD dan SMP, pemerintah mengalokasikan anggaran pendidikan melalui mekanisme Dana Alokasi Khusus (DAK) Pendidikan. Berdasarkan nota keuangan RAPBN 2011, DAK Pendidikan sekitar Rp 10 triliun atau sekitar 4,1 persen. Jikapun DAK Pendidikan digabung dengan dana yang diperuntukkan buat menunjang program wajib belajar, persentasenya dalam APBN sekitar 14,8 persen.

Sekarang coba kita telaah anggaran yang dialokasikan untuk pos gaji yang masuk komponen transfer ke daerah melalui DAU Pendidikan, yang besarnya mencapai Rp 93 triliun atau sekitar 38 persen. Belum lagi jika alokasi anggarannya ditambah komponen anggaran tambahan penghasilan untuk guru PNSD sebesar Rp 3,6 triliun (1,5 persen), tambahan untuk tunjangan profesi guru sebesar Rp 17 triliun (6,9 persen). Jadi terdapat sekitar 46,4 persen yang dialokasikan untuk membayar gaji dan tunjangan. Bandingkan dengan proporsi anggaran untuk penuntasan program wajib belajar yang hanya mencapai 10,7 persen seperti tersebut di atas, di luar DAK Pendidikan yang mencapai 4,1 persen.

Kementerian Pendidikan Nasional, sebagai leading sector untuk penyelenggaraan pendidikan gratis, pun hanya mengalokasikan program pendidikan dasar sekitar Rp 6,2 triliun atau 12,5 persen. Jumlah ini menurun jika dibandingkan dengan anggaran program wajib belajar tahun anggaran 2010 yang mencapai Rp 28,4 triliun atau sekitar 45,3 persen dari total anggaran Kementerian. Alokasi anggaran 12,5 persen itu pun sudah digabung untuk program pendidikan taman kanak-kanak. Alokasi anggaran ini masih di bawah program peningkatan mutu serta kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan yang besarnya mencapai Rp 11,5 triliun atau sekitar 22,9 persen. Bahkan anggarannya jauh di bawah anggaran untuk program pendidikan tinggi, yang mencapai 47,5 persen.

Dengan demikian, dalam postur anggaran pendidikan 20 persen ini, posisi program wajib belajar pendidikan dasar tidaklah sekokoh yang dibayangkan banyak kalangan. Posisinya bahkan kalah kokoh dibandingkan dengan alokasi administrative cost, berupa pembayaran gaji dan tunjangan pendidik dan tenaga pendidikan yang mencapai 46,4 persen seperti tertera di atas. Tentu saja formulasi anggaran seperti ini dapat berimplikasi sangat luas terhadap keberlangsungan program wajib belajar yang sudah diamanatkan oleh UU Sisdiknas. Formulasi anggaran seperti itu juga mengindikasikan kepada kita bahwa logika kekuasaan lebih dominan daripada logika konstitusi.

Dengan postur anggaran yang seperti ini, kita patut bertanya, sejauh mana sesungguhnya komitmen pemerintah untuk menuntaskan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun? Bagaimana komitmen pemerintah untuk memperluas akses layanan pendidikan yang bermutu bagi semua anak bangsa?

Kemajuan negeri ini dapat diraih jika negara ini memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan taraf pendidikan rakyatnya. Kemajuan negeri ini bisa diraih jika kita memiliki sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan dari pendidikan yang berkualitas pula. Dan komitmen pemerintah yang kuat untuk memajukan pendidikan tidaklah sebatas pembentukan citra. Komitmen itu harus benar-benar mewujud nyata. Dengan demikian, mimpi masyarakat menikmati pendidikan gratis dan bermutu menjadi kenyataan. (Sumber: Koran Tempo, 23 Oktober 2010).

Teori Waktu Dari Einstein




Pernah merasa waktu berjalan cepat atau terasa begitu lambat? Seperti saat waktu berlalu begitu cepat ketika Anda sedang bersama teman- teman atau saat waktu terasa begitu lambat ketika Anda terjebak dalam hujan. Tapi Anda tidak bisa mempercepat atau memperlambat waktu kan?
Waktu selalu berjalan dalam kecepatan yang konstan. Einstein tidak berpikir demikian. Ide dia adalah semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin lambat waktunya relatif dibandingkan kondisi orang yang tidak bergerak. Dia menyebutnya melambatnya waktu karena gerakan. Tidak mungkin, kamu bilang? Oke, bayangkan ini. Kamu berdiri di bumi, memegang jam. Teman baikmu ada di dalam roket dengan kecepatan 250.000 km/detik. Temanmu juga memegang sebuah jam. Kalau kamu bisa melihat jam yang dibawa temanmu, kamu akan melihat bahwa jam itu tampak berjalan lebih lambat daripada jam kamu. Sebaliknya temanmu akan merasa jam yang ia bawa berjalan biasa2 aja (tidak melambat), dia pikir malah jam kamu yang tampak berjalan lebih lambat.

Masih bingung? Ingat, Einstein butuh 8 tahun untuk menemukan hal ini. Dan dia dianggap jenius. Einstein memberikan contoh untuk menunjukan efek perlambatan waktu yang dia sebut “paradoks kembar”. Seperti permainan penjelajah waktu. Mari kita mencobanya dengan menganggap ada 2 orang kembar bernama Eyne dan Stine. Dua2nya kita anggap berumur 10 tahun. Eyne memutuskan dia sudah bosan di bumi dan perlu liburan. Dia mendengar bahwa ada hal yang menarik di sistem bintang Alpha3, yang berjarak 25 tahun cahaya. Stine yang harus mengikuti ujian matematika minggu depan, harus tinggal di rumah untuk belajar. Jadi Eyne berangkat sendiri. Ingin sampai secepatnya di sana, dia memutuskan untuk berjalan dengan kecepatan 99,99% kecepatan cahaya. Perjalanan ke sistem bintang itu bolak balik membutuhkan waktu 50 tahun. Apa yang terjadi ketika Eyne kembali? Stine sudah 60 tahun, tapi Eyen masih berumur 10 ½ tahun. Bagaimana mungkin? Eyne sudah pergi selama 50 tahun tapi hanya bertambah umur ½ tahun! Hey, apakah Eyne baru saja menemukan mata air awet muda!



Ide Einstein tentang waktu yang melambat tampak benar dan semua adalah teori, tapi bagaimana kamu tahu kalau dia benar? Salah satu cara adalah dengan naik roket dan memacu roket itu mendekati kecepatan cahaya. Tapi sampai saat ini, kita belum bisa melakukannya. Tapi ada satu cara untuk mengetestnya. Bagaimana kita tahu kalau Einstein tidak salah? Percobaan ini mungkin bisa memberikan penjelasan atas idenya. Jam atom adalah jam yang sangat akurat, bisa mengukur satuan waktu yang sangat kecil. Sepersejutaan detik bisa diukur. Di tahun 1971, ilmuwan menggunakan jam ini untuk mengetest ide Einstein. Satu jam atom diset di atas bumi, dan satu lagi dibawa keliling dunia menggunakan pesawat jet dengan kecepatan 966 km/jam. Pada awalnya kedua jam itu diset agar menunjukan waktu yang sama. Apa yang terjadi ketika jam dibawa mengelilingi dunia dan kemudian kembali ke titik di tempat jam satunya lagi berada? Sesuai perkiraan Einstein, kedua jam itu sudah tidak menunjukan waktu yang sama. Jam yang sudah dibawa keliling dunia, menunjukan keterlambatan waktu seperberapa juta detik!

Kamu mungkin bertanya kenapa kok bedanya begitu kecil? Pertanyaan yang bagus! Yah, 966 km/jam cukup cepat, tapi masih belum mendekati kecepatan cahaya. Untuk melihat perbedaan waktu yang signifikan, kamu harus melaju dengan sangat lebih cepat.

Baterai Nuklir



Untuk mendapatkan tenaga listrik dari energi nuklir, sejauh ini sudah banyak dilakukan melalui PLTN (Pusat Listrik Tenaga Nuklir) dan manfaatnya sudah sangat terasa bagi negara-negara maju, terutama dalam menggerakkan perindustriannya disamping untuk pemenuhan kebutuhan energi listrik bagi rumah tangga.
Tenaga listrik yang dihasilkan oleh PLTN adalah berasal dari reaksi fisi (pembelahan) yang menghasilkan panas sangat besar. Panas yang sangat besar ini digunakan untuk menghasilkan uap bertekanan tinggi yang kemudian uap tersebut digunakan untuk menggerakkan turbin yang dihubungkan ke generator, sehingga akan diperoleh tenaga listrik. Sedangkan pemanfaatan energi nuklir melalui reaksi fusi (penggabungan) yang panasnya jauh lebih besar dari pada reaksi fisi, sampai saat ini masih dalam taraf penelitian mengingat belum ditemukan bahan yang tahan terhadap tekanan tingi dan juga suhu tinggi dengan orde ratusan ribu derajat Celcius.

Pemanfaatan energi nuklir untuk menghasilkan tenaga listrik sejauh ini memang sudah terbukti dapat bersaing dengan tenaga listrik yang diperoleh secara konvensional melalui pemakaian energi primer (batubara dan minyak) maupun melalui pemakaian energi terbarukan (air, panas bumi dan matahari). Selain dari itu, para ahli pada saat ini juga akan melengkapi kemampuan energi nuklir dengan cara lain untuk menghasilkan tenaga listrik arus searah (tenaga baterai/DC), tidak hanya tenaga listrik arus bolak-balik (AC) seperti yang sudah dikenal selama ini melalui PLTN. Cara lain yang dimaksud adalah tidak dengan memanfaatkan panas dari hasil reaksi fisi maupun fusi, akan tetapi memanfaatkan proses terjadinya reaksi peluruhan (decay process) pada setiap bahan radioaktif.

Pada reaksi peluruhan ini yang dimanfaatkan adalah radiasi nuklir itu sendiri yang disertai dengan pelepasan elektron atau muatan listrik dan juga kemampuan menumbuk bahan untuk menghasilkan elektron sekunder yang dapat diubah menjadi tenaga listrik. Bila hal ini bisa direalisasikan maka tenaga listrik yang diperoleh dari hasil proses peluruhan zat radioaktif akan dapat menambah sumber tenaga listrik arus searah, disamping sumber arus searah (tanaga baterai) yang telah dikenal secara konvensional berupa baterai kimia sel basah maupun sel kering.

Proses Peluruhan Zat Radioaktif

Proses peluruhan zat radioaktif sebenarnya adalah proses alami dari suatu zat radioaktif atau radioisotop dalam rangka keseimbangan menuju kepada energi dasarnya (ground state energy). Proses peluruhan zat radioaktif yang terjadi berkaitan erat dengan jenis radiasi nuklir dari suatu radioisotop. Untuk itu, perlu diketahui beberapa jenis radiasi yang mengikuti terjadinya proses peluruhan tersebut. Jenis radiasi yeng dimaksud sebenarnya ada 8 macam, namun yang akan dijelaskan hanya yang dalam proses peluruhannya menghasilkan elektron atau yang dapat menyebabkan ionisasi langsung saja, yaitu radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop yang digunakan dalam baterai nuklir. Jenis radiasi tersebut adalah :

1. Radiasi Alpha ()
Radiasi ini pada umumnya terjadi pada elemen berat, yaitu atom yang nomor massanya besar (mohon dilihat sistem periodik/tabel berkala) yang tenaga ikatnya rendah, yaitu tenaga ikat antara elektron dan inti atomya rendah. Radiasi Alpha pada umumnya diikuti juga oleh peluruhan radiasi Gamma. Atom yang mengalami peluruhan radiasi Alpha, nomor massanya akan berkurang 4 dan nomor atomnya berkurang 2, sehingga radiasi Alpha disamakan dengan pembentukan inti Helium yang bermuatan listrik 2 dan bermassa 4. Contoh peluruhan radiasi Alpha adalah peluruhan Plutonium menjadi Uranium yang reaksinya sebagai berikut:



3. Radiasi Beta Positif
Radiasi ini sama dengan pancaran positron (elektron positif) dari inti atom. Bentuk peluruhan ini terjadi pada inti yang kelebihan proton. Pancaran positron dapat terjadi bila perbedaan energi antara inti semula dengan inti hasil perubahan (reaksi inti) paling tidak sama dengan 1,02 MeV. Radiasi Beta Positif akan selalu diikuti dengan peristiwa annihilasi atau peristiwa penggabungan, karena begitu terbentuk zarah Beta (+) akan langsung bergabung dengan elektron (-) yang banyak terdapat di alam ini dan menghasilkan radiasi Gamma yang lemah. Contoh radiasi Beta Positif :



Jenis radiasi lainnya (radiasi Gamma, radiasi Neutron dan lain sebagainya) tidak dibahas dalam kaitannya dengan baterai nuklir, karena dalam peluruhannya tidak menghasilkan elektron atau muatan listrik yang langsung dapat mengionisasi medium yang pada akhirnya dapat diubah menjadi tenaga listrik arus searah. Selain dari itu, radiasi Gamma dan Neutron mempunyai daya tembus yang sangat besar, sehingga menyulitkan untuk mengukungnya agar radiasi tidak menembus dinding baterai nuklir. Kalaupun dinding baterai buklir dibuat tebal, akan berdampak pada masalah biaya dan secara teknis akan kalah bersaing dengan sumber radiasi Beta yang banyak digunakan dalam baterai nuklir.



Berbagai Macam Baterai Nuklir
Berbagai macam model baterai nuklir yang sudah dikembangkan sejauh ini adalah sebagai berikut;

1. Baterai nuklir “high speed electrons battery”:
Baterai ini dinamakan juga dengan baterai nuklir Beta, sesuai dengan jenis radiasi yang dipancarkan oleh radioisotop yang digunakan. Baterai nuklir ini bisa menghasilkan tegangan sampai beberapa ribu volt. Tegangan yang tinggi ini dipengaruhi oleh kerapatan isolator yang digunakan, sehingga tidak terjadi kebocoran yang dapat menimbulkan ionisasi udara di sekitar terminal elektrodenya. Arus yang dihasilkan masih rendah dan perlu dinaikkan lagi dengan memperhatikan masalah nuclear barrier transmission seperti yang diuraikan di atas. Radioisotop yang digunakan dalam baterai ini adalah Strontium-90 yang mempunyai waktu paro 28 tahun, sehingga umur pakai baterai nuklir jenis ini bisa dua kali waktu paronya, yaitu 56 tahun.

2. Baterai nuklir “contact potential difference battery
Baterai nuklir ini sering disingkat dengan baterai CPD (Contact Difference Potential). Elektrode yang digunakan adalah 2 jenis bahan logam yang mempunyai sifat “work function” yang sangat berbeda. Work function suatu bahan adalah energi yang diperlukan untuk membebaskan elektron keluar orbitnya. Bahan elektrode yang mempunyai sifat work function yang sangat jauh berbeda adalah Seng (Zn) dan Karbon. Ruang diantara kedua elektrode, yaitu antara bahan logam yang mempunyai sifat “work function” tinggi dan bahan logam yang mempunyai “work function” rendah, diisi medium berbentuk gas, yaitu Tritium yang setiap saat dapat diionisasikan oleh radioisotop menghasilkan elektron dan ion positif. Hasil ionisasi (elektron dan ion) akan menuju ke masing-masing elektrodenya sesuai dengan muatan listrik yang dibawanya. Penyerahan muatan listrik ke masing-masing elektrode akan menimbulkan arus listrik searah secara berkesinambungan. Radioisotop yang digunakan sama dengan baterai nuklir pertama, yaitu Strontium -90

3. Baterai nuklir PN junction
Baterai nuklir ini memanfaatkan sifat radioisotop yang dapat menimbulkan berondongan elektron (avalanche) pada salah satu elemen diode semikonduktor yang dipasang di dalam wadah baterai. Bahan semikonduktor yang dapat menghasilkan berondongan elektron akibat terkena radiasi adalah Antimon. Sedangkan untuk elektrode positifnya digunakan Silikon. Berondongan elektron yang terbentuk akan ditarik oleh elektrode positif dan pada saat penyerahan muatan listrik akan timbul arus listrik searah seperti yang terjadi pada baterai nuklir CPD. Baterai nuklir PN junction ini walaupun tegangannya rendah tapi arus yang dihasilkan jauh lebih besar dari pada baterai nuklir lainnya. Sumber radioisotop yang digunakan adalah Prometium 147 yang mempunyai waktu paro 2,5 tahun, sehingga umur pakai baterai nuklir jenis ini bisa mencapai 5 tahun.

4. Baterai nuklir termokopel
Baterai nuklir jenis ini memanfaatkan panas yang ditimbulkan oleh radioisotop yang ditempatkan pada bagian dalam wadah yang dilengkapi dengan dua jenis logam yang bersifat sebagai termokopel. Arus yang timbul dari adanya termokopel dapat menjadi tenaga baterai.

5. Baterai nuklir “secondary emitter”
Baterai nuklir jenis ini menggunakan radioisotop yang dapat menumbuk bahan target yang peka terhadap radiasi, sehingga akan menimbulkan elektron sekunder akibat tumbukan tersebut. Elektron sekunder ini akan dikumpulkan oleh elektrode yang tidak peka terhadap radiasi. Perbedaan tegangan pada kedua elektrode tersebut akan menghasilkan arus listrik yang besarnya proporsional dengan energi yang dibawa oleh elektron sekunder.

6. Baterai nuklir fotolistrik
Baterai nuklir fotolistrik ini memanfaatkan sifat bahan sintilator yang akan mengeluarkan pendar cahaya (foton) bila terkena radiasi. Pendar cahaya (foton) yang timbul kemudian diubah menjadi tenaga listrik oleh bahan semikonduktor yang peka terhadap foton cahaya. Foton cahaya dapat juga diubah menjadi tenaga listrik oleh sel fotolistrik. Bahan sintilator yang digunakan dapat berupa Posfor, Natrium Iodida yang diberi Thalium.

7. Baterai nuklir “photon junction”
Baterai nuklir ini menggunakan posfor radioaktif sebagai sumber radioisotopnya yang diapit oleh bahan semikonduktor. Bahan semikonduktor diletakkan berhimpitan dengan “semiconductor surface layer” agar dapat terjadi perpindahan “electron hole” akibat terkena radiasi . Adanya perpindahan electron hole pada bahan semikonduktor ini akan menimbulkan pulsa listrik yang besarnya sama dengan energi pendar cahaya yang terjadi. Tegangan baterai nuklir ini relatif konstan.



 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes